|
Tentang Fatwa Kontroversial MUI |
|
|
|
|
Oleh: Fathurrahman Anwar Little Rock, USA. 17 Februari 2009 Kalau melihat posisi MUI saat ini saya jadi kasihan. MUI yang dari dulu memang merupakan simbol dari keberadaan institusi agama di Indonesia, saat ini disodok kiri kanan. Para promotor Islam liberal menyuarakan MUI dibubarkan saja, karena digawangi tokoh konservative disamping menurut menurut saudara-saudara kita ini agama merupakan wilayah pribadi. Kawan-kawan yang memilki pemahaman liberal juga menganggap agama tidak membutuhkan sebuah institusi karena nilai-nilai agama berasal dari tuhan dan bukan kesepakatan antar manusia. Setiap individu merdeka menjalankan agama yang dipahaminya, sehingga keberdaan institusi seperti MUI dianggap menzalami kemerdekaan tersebut.
Beberapa waktu lalu keputusan MUI menyangkut haram merokok juga hampir berhasil digagalkan melalui propaganda yang bukan tidak mungkin dibiayai cukong rokok. Sebagaimana yang disinyalir sejumlah pihak, keputusan MUI tersebut diduga 'pesanan' Kak Seto. Suatu dugaan tak beralasan dan menurut saya merupakan bahan lelucon semata. Satu orang yang tidak berkompeten dalam agama kok bisa dicurigai mempengaruhi ratusan ulama yang juga nggak kalah punya gelar akademis dari universitas ternama dunia. Di USA sediri tempat cukong-cukong rokok terbesar tersebut bercokol, merokok ditempat-tempat tertentu dilarang keras. Iklan rokok sendiri 'haram' diputar di TV. Warga USA 'diharamkan' ambil bagian dalam pembuatan iklan rokok. Untuk memasarkan rokok di negara sendiri, Phillip Morris, salah satu cukong rokok terbesar, beberapa waktu lalu terpaksa mendatangkan sejumlah 'badut' dari seluruh dunia untuk bergaya seperti Koboy di tengah terik mata hari padang rumput New Mexico (tidak dibayar, cuman dikasih tiket pesawat).
|
|
Last Updated on Thursday, 26 February 2009 23:20 |
|
Read more...
|
|
|
Pengaruh Tingkat Bunga SBI Terhadap Dunia Bisnis |
|
|
|
|
Oleh: Fathurrahman Anwar Little Rock, 27 November 2008 Central Bank Rate (SBI di Indonesia) pada dasarnya dimaksudkan untuk mengontrol inflasi (peningkatan harga barang/ jasa secara umum) dan laju pertumbuhan ekonomi, dua hal yang tidak selalu akur. Laju pertumbuhan yang tinggi bisa memacu inflasi. Logika yang sering aku bayangkn adalah saat terjadi pertumbuhan yang tinggi, daya beli masyarakat meningkat sehingga permintaan barang dan jasa meningkat. Kalau peningkatan jumlah barang dan jasa ini tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah jasa yang disediakan, dalam jangka pendek akan terjadi inflasi. Inflasi tentu saja buruk karena bisa mengurangi kemampuan beli setiap orang. SBI bisa digunakan untuk dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dengan tingkat inflasi yang relatif rendah. Saat BI melihat tingkat inflasi yang terlalu tinggi, BI biasanya akan mengintervensi dengan meningkatkan suku bunga. Peningkatan suku bunga di satu sisi akan membuat biaya utang yang harus ditanggung pengusaha meningkat. Ini berkaitan dengan peingkatan tingkat bunga atas dana yang bersedia disalurkan Bank.
Peningkatan SBI dengan sendirinya akan diikuti dengan peningkatan tingkat bunga atas dana yang disediakan Bank Komersial. Ini terjadi karena peningkatan tingkat bunga SBI akan mendorong pihak Bank untuk meningkat pembelian SBI. Pihak Bank komersial berfikir bahwa dari pada menyalurkan uang kepada pengusaha yang punya beresiko gagal bayar, lebih baik uang tersebut di belikan SBI yang beresiko rendah karena dijamin pemerintah dan memilki tingkat bunga yang relatif tinggi. Akibatnya jumlah dana yang bersedia mereka pinjamkan ke investor menurun. Sebagaimana hukum pasar, penurunan jumlah uang yang bersedia disalurkan bank tersebut, yang tidak disertai dengan penurunan jumlah permintaan pinjaman, dalam jang pendek akan berakibat pada meningkatnya tingkat bunga pinjaman. Dengan kata lain dana pinjaman relatif mahal buat para pengusaha.
|
|
Last Updated on Sunday, 22 February 2009 19:21 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
|